Isnin, 12 Januari 2009
Kepentingan FAMILY
"Oh maafkan saya, saya tak perasan"
Katanya "Maafkan saya juga,
Saya tak nampak saudara"
Kami amat bersopan dan saling menghormati,
Kami saling melambai sambil berlalu pergi,
Tetapi di rumah lain pula ceritanya,
Bagaimana kita melayan orang tersayang, tua dan muda,
Lewat petang, tika memasak makan malam,
Anak lelaki kecilku berdiri di dapur secara diam-diam,
Bila berpaling aku hampir melanggarnya jatuh,
Jerkahku, "Jangan buat kacau di sini, pergi main jauh-jauh"
Dia berlalu pergi, hatinya hancur luluh dan beku,
Aku tak sedar, bertapa kasarnya kata-kataku,
Sedangku berbaring di katil mendengar musik,
Terdengar suara halus datang membisik,
"Bila bersama orang tak dikenali,
Begitu bersopan dan merendah diri,
Tetapi ahli keluarga tersayang, sering dimarah dan dicaci",
"Cubalah kau pergi lihat di lantai dapur,
Kan kau temui bunga-bungaan berterabur",
"Itu adalah bunga-bunga dibawanya untuk kamu,
Dia memetiknya sendiri, kuning, biru dan unggu",
"Dia berdiri senyap agar jadi kejutan buat kamu,
Kamu tak pernah sedar airmatanya yang datang bertamu",
Pada tika ini, aku merasa amat kecil sekali,
Airmataku mencurah ibarat air di kali,
Senyap-senyap ku kebiliknya, dan melutut di katil,
"Bangunlah, anakku, bangunlah si kecil"
"Apakah bunga-bunga ini dipetik untuk mak?
Dia tersenyum, " Adi k terjumpanya belakang rumah di semak"
" Adi k memetiknya kerana ia cantik seperti ibu,
ibu tentu suka terutama yang unggu,
"Maafkan ibu, atas sikap ibu hari ini,
Ibu tak harus menjerkah kamu, sebegini,
Katanya,"Oh, ibu, itu tak mengapa,
Saya tetap sayang ibu melebihi segala,
Bisikku, "Anakku, ibu pun sayang kamu,
dan ibu suka bunga itu, terutama yang unggu,
FAMILY
Adakah kamu sedar, sekiranya kita mati hari ini,
syarikat tempat kita berkerja akan senang-senang mendapat pengganti,
dalam hanya beberapa hari?
Tetapi keluarga yang kita tinggalkan,
akan merasa kehilangan kita sepanjang hayat.
Dan sedarlah, sekiranya kita menghabiskan masa kita kepada kerja,
melebihi keluarga kita, adakah ia merupakan suatu pelaburan yang bijak ?
Jadi apakah maksud yang tersirat?
Tahukah anda makna "FAMILY"?
FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER (I) (L)OVE (Y)OU
Jumaat, 21 November 2008
Hebat Kuasa ILAHI
Ayat 1 - 10
Surah Makkiyah ini menggambarkan dan membuktikan totalitas komprehensif atau menyeluruh tentang ketuhanan. Ciptaan tampaknya memang terdiri dari berbagai sistem yang berbeda, dengan masing-masing sistem bergerak menuju pencapaian penuh potensinya, dan sistem-sistem ini saling berjalin berkelindan, entah terlihat maupun tidak.
Sang Pengendali dari seluruh sistem ini adalah satu Pencipta yang tak terbatasi oleh waktu dan meliputi seluruh makhluk. Segenap anugerah dan rahmat itu dimaksudkan agar kita bisa mengetahui rahmat-Nya yang tak berbatas, kasih sayang dari sang Pencipta yang Maha Pengasih, tempat kembali seluruh makhluk, dan yang dengan rahmat-Nya seluruh makhluk diciptakan.
بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.
تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
1. Mahasuci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
2. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih amal perbuatannya. Dan Dia Mabaperkasa lagi Maha Pengampun.
Ciptaan itu didasarkan pada cinta sang Pencipta pada apa yang Dia ciptakan. Dan apa yang Dia ciptakan berasal dari diri-Nya, ditopang oleh-Nya, didukung oleh-Nya, dan kembali kepada-Nya. Ketika cinta itu mengejewantah dalam diri makhluk, sang makhluk pun merasakan kebahagiaan dan kenikmatan. Sumber dan pancaran kebahagiaan itu selalu ada setiap saat. Hanya saja, memang sang makhluk sendirilah yang suka menghalanginya secara ceroboh. Seluruh ciptaan ini adalah hasil dari rahmat Zat yang ciptaan-Nya adalah kerajaan-Nya. Segala sesuatu di dalamnya berada dalam genggaman-Nya dan berasal dari kekuasaan-Nya. Oleh karena itu, setiap makhluk memperoleh kekuatannya secara langsung dari sang Pencipta.
Allah menciptakan pengalaman hidup dan mati. Dalam kehidupan ini, manusia dilemparkan ke dalam berbagai situasi agar ia bisa tersucikan dari segala pengaruh jahat. Cobaan (balâ’) adalah suatu ujian penting yang menggerakkan manusia, dengan ilmu dan pengetahuan, menuju tingkatan kemumian yang lebih tinggi. Ujian (balwa) adalah sarana manusia untuk menghilangkan hambatan hasrat dan pamrih yang ada antara dirinya dan sang Pencipta. Ujian mengajari makhluk untuk hidup bebas, mengetahui anugerah hidup yang telah diberikan kepadanya. Amal-amal paling baik adalah yang dilakukan tanpa pamrih. Semuanya itu dilakukan semata-mata dan secara tulus demi kepentingan Allah.
Manifestasi atau pengejawantahan pertama dari penciptaan adalah kehidupan. Pengalaman kehidupan bermakna hanya bila ada lawannya, pengalaman kematian. Pengalaman ini pasti dialami setiap orang. Selain ada kehidupan dan kematian lahiriah, ada juga kehidupan dan kematian batiniah. Ketika hati sudah mengeras, maka ia sama saja mati. Jika hati itu mengalir, maka ia hidup. Kehidupan dan kematian sama-sama ada, baik secara inderawi maupun maknawi.
الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا مَّا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِن تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِن فُطُورٍ
3. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat dalam ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih sesuatu yang tidak seimbang. Maka, lihatlah berulang-ulang, apakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang?
ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِأً وَهُوَ حَسِيرٌ
4. Kemndian pandanglah sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu yang cacat, dan pandanganmu pun dalam keadaan payah.
Kerajaan Allah terwujud dalam tujuh lapisan, tujuh tahap atau model langit yang berbeda. Setiap lapisan berada di atas lapisan lainnya, saling berkaitan secara tidak kelihatan, tetapi tetap mempertahankan segenap karakteristiknya masing-masing. Dijumpai dalam berbagai hadis dan juga ucapan para Imam bahwa bumi mempunyai tujuh lapisan. Malahan, ada sebuah doa yang berbunyi: Rabb as-samawât as-sab’ wa rabb al-ardh as-sab’ (Tuhan pemilik tujuh langit dan tujuh bumi).
“Kamu sekali-kali tidak melihat dalam ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih sesuatu yang tidak seimbang.” Kata futhur berasal dari fathara, yang berarti membuka, meretakkan. Fithrah adalah retakan awal—awal manusia dihidupkan. Tuhan Yang Maha Pengasih meliputi segala sesuatu di bawah naungan rahmat-Nya. Rahmat Allah diberikan kepada seluruh makhluk, sementara rahm-Nya. hanya diberikan kepada orang mukinin. Di bawah naungan Tuhan Yang Maha Pengasih, tidak ada sesuatu pun dalam ciptaan yang tidak bisa ditempatkan. Tidak ada keterputusan di dalamnya. Segala sesuatu menjadi bermakna bagi manusia bila ia mengembangkan pandangan yang benar dan mencampakkan penilaian yang serampangan. Allah berfirman, “Kemudian pandanglah sekali lagi.” Sebab, sekalipun manusia sering melihat, ia melakukannya tanpa suatu tilikan yang cermat. Alquran menantang manusia untuk memandang sekali lagi kalau-kalau ia menemukan ada sesuatu yang salah atau tidak seimbang. Semakin sering seseorang memandang, semakin ia menemukan kesempurnaan lapis demi lapis dalam hukum-hukum dan keterkaitan yang menyatukan alam semesta ini.
Sering muncul keraguan dalam diri manusia ketika ia mulai merenung. Pada mulanya, renungannya tampak tidak jelas dan tidak berhubungan dengan hakikatnya. Akan tetapi, semakin sering ia merenung, semakin sering pula ia melihat kasih sayang sejati yang mengantarkannya menuju kesadaran dan pemahaman sempuma. Penglihatan akan didapatkannya kembali dan ia tidak akan mampu menemukan kesalahan.
“Niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu yang cacat, dan pandanganmu pun dalam keadaan payah.” Kata khâsi’ berarti tertolak, vulgar, diingkari. Kata hashîr berarti kelelahan, putus asa atau kepayahan. Jika manusia merenung, maka ia tidak akan mampu melihat suatu cacat apa pun. Pandangannya hanya akan melihat Tuhan Yang Maha Pengasih, yang pengejawantahan-Nya ada dalam kesempumaan ciptaan-Nya. Tidak ada sesuatu pun yang timpang. Entitas-entitas kemakhlukan saling berkaitan satu sama lain dengan sangat akurat. Ini menegaskan bahwa Tuhan Yang Maha Meliputi mengejawantahkan rahmat-Nya. Dengan kata lain, kemampuan akal manusia dan tilikannya akan mampu melihat kesempurnaan ciptaan.
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِّلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ
5. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu sebagai alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.
وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
6. Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhan mereka memperoleh azab dan siksa Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.
إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ
7. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sementara neraka itu menggelegak.
تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْخَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ
8. Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya, “Apakah belum pernah datang kepadamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?”
قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِن شَيْءٍ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ
9. Mereka menjawab, “Ya, benar. Sesungguhnya telah datang kepada kami pemberi peringatan. Lalu kami mendustakan, dan kami katakan, ‘Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tiada lain hanyalah dalam kesesatan yang besar.’”
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
10. Dan mereka berkata, “Sekiranya dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya kami tidak akan termasuk dalam golongan penghuni neraka yang menyala-nyala.”
Langit terendah adalah langit yang dilihat manusia sekarang ini. Langit-langit yang lain berada di luar jangkauan mata telanjang biasa. Semuanya itu bertumpu pada energi atau kekuatan halus yang menyatukan alam semesta. Bintang-bintang menghiasi langit terendah, yang menampakkan banyak sekali pertukaran dinamis, entah bisa dilihat atau disimpulkan melalui observasi.
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu sebagai alat-alat pelempar setan.” Kata rajama, yang merupakan akar kata dari alat pelempar, berarti melempari atau mengutuk. Ada beberapa makna yang bisa diberikan kepada frase ini. Arti pertama adalah bahwa kekuatan setan yang tak kasatmata tidak dapat melampaui langit dunia. Makna lainnya adalah bahwa orang-orang yang menggunakan kekuatan supranatural dan sihir bakal sengsara dan tidak akan mampu melampaui suatu batas.
Semua bentuk setan atau penyimpangan akan mengantarkan manusia menuju ‘adzâb as-sa’îr, azab dan siksa api neraka yang menyala-nyala. Orang-orang yang berada dalam genggaman kekuasaan setan—yang mengingkari Tuhan, menutup-nutupi, tidak beriman bahwa ada Pemelihara kehidupan yang memandu kita menuju perwujudan berbagai kemungkinan potensi kita—akan memperoleh azab api neraka abadi, yang tidak ada tandingan kepedih-an dan kedahsyatannya. Kata mashir, tempat tujuan atau nasib terakhir, berasal dari kata shara, yang berarti menjadi, sebuah kata yang menyiratkan “adanya waktu.”
Erangan atau keluhan yang terlontar ketika seseorang memasuki neraka Jahannam adalah ekspresi terakhir yang disebut syahiq (erangan). Kata syahaqa berarti menghirup, menghela nafas, mengerang. Ketika berada di tempat kediaman terakhir, makhluk-makhluk mengeluarkan suara keluhan di suatu lingkungan yang senantiasa berubah, tidak pernah tetap—kebalikan dari surga.
Dalam api yang selalu berkobar-kobar, berputar-putar dengan kemurkaan, yang semakin panas ketika diberikan bahan bakar, muncul suatu suara yang bertanya, “Bukankah kau sudah diberitahu tentang keadaan ini? Bukankah kau sudah diingatkan untuk mempersiapkan diri dalam menyongsong akhir yang mengerikan ini?” Penanya itu adalah para penjaga api neraka.
Orang-orang yang ditanya itu kemudian menjawab, “Kami tidak mendengar. Kami mengingkari eksistensi Tuhan Yang Mahabenar. Kami mengingkari Allah. Kami yakin bahwa tidak ada Tuhan Yang Mahabenar dan menganggap bahwa orang-orang yang menyuarakan kebenaran adalah orang-orang yang sesat.
Hanya ada keadilan di dunia ini dan di akhirat nanti. Jika seseorang tidak mendengar suara kebijakan yang akan memandunya di dunia ini dan menunjukkan kepadanya bagaimana cara hidup yang menjauhkan dirinya dari bahaya—jika ia tidak memperhatikan kebijakan itu, maka ia akan sengsara dalam kehidupan ini. Akan tetapi, ada lagi keadaan yang lebih tinggi, suatu keadaan di mana terdapat keimanan pada dan pengakuan akan Allah. Jika keadaan itu tidak muncul, hukuman ada diterima di dunia ini maupun di akhirat nanti—ketika waktu relatif berhenti dan keabadian mutlak dimulai.
Ini bukanlah bahasa teater. Ada komunikasi seketika di luar batas waktu di antara berbagai makhluk. Dalam kehidupan ini, orang-orang kafir menarik garis batas antara kemampuan mendengar dan kemampuan memahami apa yang bisa didengar. Mereka merintangi penggunaan kemampuan akal alami, indera bawaan yang dianugerahkan kepada setiap orang. Mereka salah menafsirkan demi ke-untungan mereka sendiri, keterikatan sentimental, emosionalisme, atau karena cinta dunia.
Rabu, 19 November 2008
Sakit Nya Mati
"Allah merahsiakan saat kematian kita, adalah untuk melihat sejauh mana kita melaksanakan amalan yang telah ditetapkan kepada kita dan sedalam mana pula kita meninggalkan larangannya. Manusia yang hatinya sentiasa ingatkan mati, akan melaksanakan tugas yang telah diamanahkan kepadanya dengan lebih jujur, bersungguh-sungguh dan ikhlas untuk mendapat keredhaan Allah.
Manusia begini sentiasa merasai setiap tingkah lakunya diperhatikan oleh Allah SWT. Dan ia juga mengetahui setiap tanggungjawab dan amanah yang dipikul akan ditanya satu persatu oleh Allah di akhirat kelak.
Kesakitan bila nyawa dicabut oleh malaikatul maut tidak dapat dibayangkan sama sekali. Walau bagaimanapun Rasulullah mengingatkan tentang mati dan keseksaannya, maka sabda Baginda: Iaitulah sakitnya tiga ratus kali tetakan pedang." Bayangkanlah jika kita ditetak atau dipukul dengan kayu, rotan mahupun besi bukan banyak, cuma sekali saja, itupun sudah tidak dapat digambarkan kesakitannya. Inikan pula ditetak dengan tiga ratus tetakan.
Bayangkanlah sendiri. Cuba kita tanggalkan pula kuku daripada isinya, pastinya sakit tidak tertahan. Daging disiat-siat dan dilapah hidup-hidup, dahaga yang amat sangat sehingga air lautan di dunia ini tidak mampu menghilangkannya. Semuanya ini cuma secebis dari perbandingan kesakitan maut, malah beribu-ribu kali lebih sakitnya daripada itu. Oleh itu, untuk meringankan keseksaan roh ketika dicabut oleh malaikat maut,maka digariskan beberapa amalan tertentu yang perlu diamalkan.
Antaranya, sebelum tidur:
1) Bacalah surah Al-Ikhlas 3X
2) Selawat ke atas Nabi
3) Membaca tasbih Amalan harian: Sentiasa membaca Al-Quran Memelihara solat terutama solat fardu Menghormati (jangan bercakap) waktu azan diperdengarkan Membaca tasbih Membanyakkan sedekah Sentiasa berzikir menyebut Allah.
Amalan yang perlu dijauhi:
1) Dusta
2) Khianat
3) Mengadu domba
4) Kencing berdiri Sabda Rasulullah saw yang bermaksud: "Bersuci kamu sekalian dari buang air kecil kerana sesungguhnya kebanyakkan seksa kubur itu dari sebab buang air kecil.
" Pada suatu hari malaikatul maut datang untuk bertemu dengan Nabi Idris as lalu Nabi Idris meminta agar malaikatul maut mencabut nyawanya dan kemudian Allah menghidupkannya kembali. Permintaan ini dilakukan untuk Nabi Idris as mengetahui kesakitan sakaratul maut agar taqwanya lebih mendalam dan teguh lagi. Maka Allah memberikan wahyu kepada malaikatul maut supaya mencabut nyawa nabi Idris dan dia meninggal ketika itu juga.
Malaikatul maut menangis dan memohon kepada Allah supaya Dia (Allah) menghidupkan kembali Nabi Idris lalu dimakbulkan Allah. Setelah di dapati Nabi Idris as sudah hidup kembali, malaikatul maut bertanya: "Ya saudaraku, bagaimana rasanya kesakitan maut?"
Jawab Nabi Idris: "Sesungguhnya jika dibandingkan sakit terkelupasnya kulit dalam keadaan hidup-hidup dan rasa sakit menghadapi maut adalah 1000 kali sakitnya." Kata malaikat maut: "Sesungguhnya saya melakukan dengan secara berhati-hati dan tidak kasar apabila mencabut nyawa engkau itu dan belumlah pernah aku lakukan terhadap seseorang pun."
Dirawayatkan lagi bahawa Nabi Isa as telah menghidupkan beberapa orang yang telah mati dengan keizinan Allah. Maka sebahagian orang kafir berkata: "Sesungguhnya engkau telah menghidupkan orang-orang yang telah mati yang masih baru, yang mungkin mereka itu belum benar-benar mati. Maka cuba hidupkan untuk kami orang yang telah mati seperti zaman yang awal dulu.
" Kata Nabi Isa as: "Cubalah kamu pilihkan?" Mereka berkata: Hidupkanlah untuk kami anak Nabi Nuh as (Sam bin Nuh)." Maka Nabi Isa as pergi ke kuburnya, lalu mengerjakan solat dua rakaat dan berdoa kepada Allah. Dan Sam bin Nuh dihidupkan kembali, tetapi rambut dan janggutnya sudah beruban. Nabi Isa as hairan kenapa jadi begitu.
Berkata Sam bin Nuh:
"Saya telah mendengar panggilanmu dan saya mengira hari kiamat telah tiba, maka rambut dan janggut saya berubah menjadi putih seperti ini dari sebab takutnya hari kiamat. Berkata Nabi Isa as: "Sudah berapa tahun kau meninggal dunia?" Kata Sam: "Semenjak 4000 tahun lalu dan masih belum hilang sakit dari sakaratul maut.""